Jalan Keluar Buat Ibu yang Sulit Nahan Emosi, Bentak Anak Biar Nurut Bukan Solusi

sumber : www.bundapedia.com

Menjadi seorang ibu dan mempunyai anak kerap kali membuat emosi pada diri jadi tidak teratasi. Apa lagi, banyak pekerjaan yang ‘katanya’ jadi pekerjaan istri, dimulai dari tugas rumah yang perlu dituntaskan, mengurusi suami dan anak, sampai hal remeh-temeh yang lain. Jadi seorang istri menuntut ibu untuk dapat multitasking. Dapat masak sekalian menggendong anak, ngepel dan nyapu rumah cuman dengan 1 tangan, harus dapat curi-curi waktu saat anak tidur, bahkan juga untuk makan dan ke kamar mandi juga harus dapat sekencang kilat. Duh, ibu memang Wonder Woman keluarga!

 

Di balik sibuknya jadi ibu yang perlu memikirkan dan ngerjain segalanya yang umumnya sendirian, seringkali ketika capek dan anak mulai berulah, dengan sadar atau mungkin tidak, sang kecil jadi target untuk menumpahkan kecapekan itu. Gertakan, pekikan, dan amarah juga diluapkan ke anak. Sang abang yang tidak mau mengalah dari sang adik jadi target. Sang adik yang menyukai jahilin kakaknya juga harus ikhlas terkena semprot. Saat itu juga rumah menjadi pecah jika ibu sudah geram-marah. Sulit sich mengatur emosi, tetapi coba ambil napas panjang dan tahan diri.

 

Sebelum ceroboh menumpahkan emosi, harus dipahami jika tiap anak tercipta dengan karakter, watak, dan kelebihan yang berbeda. Tentu saja, langkah mendidik setiap anak juga berlainan juga. Dalam mendidik anak ini, seringkali emosi ibu lebih memimpin saat sang kecil tidak ingin nurut. Selanjutnya, memarahi anak dipandang seperti salah satunya langkah dalam mendidik supaya sang anak ingin mengikuti pengucapan ibu. Masa sich demikian?

 

Saat anak salah, ibu seharusnya janganlah lekas membentaknya. Ada resiko yang diakibatkan lo dari memarahi sang kecil

 

Menurut penelitian yang sudah dilakukan oleh Lise Eliot, seorang profesor pengetahuan saraf dari Fakultas Kedokteran Chicago, satu gertakan itu bisa menghancurkan miliaran beberapa sel otak pada anak. Ini terjadi khususnya pada anak yang otaknya masih juga dalam perkembangan, yaitu pada periode golden age (2-3 tahun awal kehidupan). Suara keras dan gertakan yang keluar orangtua bisa menggugurkan sel otak yang tumbuh pada anak. Kebalikannya, saat ibu memberi belaian halus sekalian menyusui, serangkaian otak anak tercipta dengan memanjakan mata.

 

Dari hasil penelitian itu bisa disebutkan jika saat ibu geram ke anak, ini bisa memengaruhi perubahan otak mereka. Tidak mau kan, tujuannya mendidik, tetapi justru memberi imbas jelek pada perubahan mereka? Maka coba mulai untuk hilangkan rutinitas memarahi dari sekarang ini.

 

Selain bisa memengaruhi perubahan otak anak, memarahi mempunyai imbas untuk personalitas anak lo!

 

Ketika miliaran sel otak pada anak hancur yang disebabkan karena gertakan, ini memanglah tidak bisa kelihatan langsung. Karena, beberapa sel yang hancur ada pada tubuh dan tidak dapat kelihatan langsung tanpa kontribusi alat pendeteksi. Walau demikian, imbas dari memarahi anak ini bisa disaksikan langsung dari personalitas yang dipunyai oleh si anak.

 

pakar psikolog anak dan remaja menjelaskan, imbas dari memarahi anak bisa menghancurkan jalinan di antara orangtua dan anak. Disamping itu, dapat memunculkan perasaan takut untuk anak saat dia bersisihan dengan orangtua hingga tidak lagi ada kehangatan dan hubungan di antara ibu dan anak yang terbentuk.

 

Membentak juga dapat membuat sang anak jadi individu yang tutup diri. Perihal ini pula yang membuat apa yang ditujukan atau apa yang ingin dikatakan oleh si anak tidaklah sampai ke orang tuanya. Dalam pengertian, anak lebih memutuskan untuk merendam apa yang ia alami daripada sampaikannya langsung ke orang tuanya.