Ketika Rasulullah Berbalas Surat dengan Nabi Palsu

Dalam sejarah Islam ada kalanya masyarakat menghadapi banyak fitnah. Salah satunya adalah fitnah berupa nabi palsu.

Nabi palsu ini dikenal sebagai Musailamah Al Kadzab. Nama aslinya adalah Musailamah bin Habib dari Banu Hanifah.

Baca juga terjemahan surat dalam islam dan kumpulan doa setelah sholat pada tautan tersebut.

Dalam kitab Sirah Ibn Ishaq, Musailamah mendapat julukan ‘Al Kadzab’ yang artinya ‘berbohong’. Alasannya adalah dia berbohong dengan mengaku sebagai Utusan Allah, dan Muhammad diutus sebagai Utusan Allah.

Musailamah terkenal dengan pembicara yang sangat baik. Banyak orang yang mempengaruhi pengikutnya menjadi nabi palsu tersebut.

Selain itu, dia adalah anggota Bani Hanifah yang dihormati. Dalam waktu dekat, popularitasnya berkembang pesat.

Klaim Mendapat Risalah Kenabian

Untuk menguatkan klaim rasul, Musailamah mengaku telah menerima wahyu dari Allah. Ia kemudian menyusun beberapa karya sastra agar sesuai dengan Al-Qur’an.

Padahal kualitas ayat-ayat yang digambarkan Musailamah sangat rendah. Bahkan jauh di bawah standar sastra Arab saat itu.

Alhasil, karya Musailamah menjadi bahan ejekan. Isinya menyusun, sedangkan struktur kalimatnya dengan meniru ayat-ayat Alquran.

Meski demikian, masih ada orang yang meyakini nabi Musailamah itu. Jumlahnya juga tidak sedikit, hingga puluhan ribu.

Nabi palsu ini dengan jelas menyebarkan ajarannya ketika Nabi masih hidup dan telah wafat. Untuk kekuatan tenur, Musailamah mengirimkan surat kepadanya dan berusaha meyakinkan pesan kenabian yang diterimanya.

Kokohkan Posisi, Kirimi Surat Rasulullah

Dalam suratnya kepada Rasulullah, Musailamah menegaskan bahwa dia juga mendapat tugas dari Allah untuk menyebarkan pesan surga. Dia juga menulis bahwa dia memiliki hak untuk mengontrol setengah dari negara Arab.

Berikut ini adalah pesan yang ditulis Musailamah kepada Nabi.

“Dari Musailamah Nabi Muhammad kepada Allah. Damai, aku ditugaskan untuk melakukan tugas, dan kekuatan bersamamu. Aku memerintahkan setengah negara dan setengahnya kepada orang Quraisy, tapi orang Quraisy itu brutal dan kejam.”

Untuk mengirimkan surat tersebut, Musailamah memerintahkan kedua pengikutnya. Surat itu dibawa ke Nabi.

Jawaban Rasulullah Muhammad SAW

Sesampainya di sana, Nabi bertanya kepada kedua utusan Musailamah tentang isi surat tersebut. Mereka setuju dengan pesan Musailamah.

Rasulullah kemudian mengirimkan surat balasan. Demikian bunyi balasan tersebut.

‚ÄúDari Nabi Muhammad SAW sampai Musailamah pembohong. Dan keselamatan diberikan kepada orang yang taat pada petunjuk (surat Taha ayat 47). Pada dasarnya bumi adalah milik Allah. Ia menjadi pusaka bagi apapun yang diinginkan hamba. Dan hasilnya adalah baik untuk orang yang benar. ”

Alih-alih menahan diri menerima jawaban dari Nabi, Musailamah justru meningkatkan pengaruhnya. Dia menjadi lebih aktif untuk mengajak orang lain mengikuti ajaran Nabi setelah kematiannya.

Pengaruh Musailamah cukup mengganggu umat Islam setelah wafatnya Nabi. Akhirnya setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar Ash Shiddiq menumpas Musailamah dan para pengikutnya melalui Pertempuran Yamamah.